Proposal Kunjungan Kasih LM ke Panti Jompo Melania

by Yannie, Dera, Gerda

Minggu, 9 Nov 2008 pukul 10.00 kurang ketika kami tiba di Panti Jompo Melania Jl. Pahlawan No. 4 RT 06/03, Rempoa, Ciputat. Kami diterima dengan hangat oleh Ibu Irene, pelaksana harian Panti. Ibu Irene dengan ramah melayani banyak sekali pertanyaan kami seputar kondisi Panti. Berikut hasil `wawancara’ kami dengan Ibu Irene.

Panti Melania dihuni oleh 46 lansia (39 Oma 7 Opa) yang berusia antara
64 – 94 tahun. Kebanyakan diantaranya berusia di antara 70-80 tahun.
Panti ini berdiri sejak tahun 1980 dibawah naungan Yayasan Katolik St.
Melania yang berpusat di Rawasari. Panti didirikan untuk melayani Lansia dalam mengisi hari tua. Melania mempunyai misi “Melayani para Lansia yang membutuhkan bimbingan, perhatian, dan kekeluargaan dalam kebersamaan.”

Dana operasional Panti diperoleh dari iuran penghuninya dan juga dari
donatur. Pengurus Panti menerapkan sistem subsidi silang. Mereka yang diterima di Panti ini adalah orangtua berusia 60 tahun keatas, tidak bersuami atau istri alias single. Biaya iuran diatur menurut kemampuan penanggung-jawab penghuni (keluarga Oma Opa). Terendah mereka membayar Rp 100.000, dan selanjutnya berjenjang dari Rp 100.000, Rp 150.000 dan seterusnya sampai tertinggi Rp 500.000. Dari 46 penghuni hanya dua orang yang mampu memberi iuran Rp 900.000 kebanyakan membayar dibawah Rp. 500.000. Diantara penghuni ada yang membayar sekaligus untuk setahun kedepan. Namun, ada juga yang “berhutang” dulu dengan cara membayar setahun dibelakang. Sementara ada yang membayar dua atau tiga bulan kedepan atau dibelakang.

Jika mengandalkan biaya operasional dari bayaran penghuni, Panti Melania tentu tidak mampu berdiri. Mereka selama ini juga mendapat bantuan dari para donatur tetap, maupun sumbangan insidental. “Itupun kita selalu defisit sekitar Rp 1,5 juta setiap bulan,” kata Ibu Irene.

Panti Melania mempunyai visi melayani para penghuninya agar mengisi hari tuanya dengan kegiatan positif, dan berarti. Panti mempunyai jadwal harian sebagai berikut. Pukul enam pagi diadakan doa pagi yang dilanjutkan sarapan pagi bersama-sama di aula. Sekitar pukul tujuh, khusus pada hari Senin dan Rabu mereka melakukan senam Tai Chi. Khusus hari Selasa, mereka mendapat latihan angklung dengan pelatih dari para relawan. Kegiatan ini dipakai untuk menyalurkan hobi dan melatih otot motorik. Setelah makan siang adalah acara bebas. Pukul tiga mereka mendapat snack sore. Makan malam pukul 19.00 dilanjutkan doa malam. Menu makan diputar perminggu. Kamis dan Minggu disediakan ayam goreng. Rabu-Sabtu ikan. Selasa-Jumat: Telur.

Menurut Ibu Irene, syarat menjadi penghuni Melania adalah Oma Opa yang memilih tinggal di Panti harus atas keinginan sendiri. Karena pernah ada kejadian penghuni dipaksa tinggal malah tidak betah dan selalu minta pulang. Sebagian besar Oma Opa tinggal di Panti karena kesepian di tengah keluarga yang sibuk bekerja, tidak ada yang memperhatikan dan mengurus mereka di rumah. Apalagi banyak diantara Oma Opa yang tinggal di Panti Milenia ini adalah Oma Opa yang tidak pernah menikah hingga masa tuanya tetap sendiri.

Ibu Irene menceritakan berbagai kisah tentang Oma Opa. Para penghuni
berasal dari berbagai suku, karena memang misinya tidak membedakan suku dan agama. Saat ini Panti dihuni oleh Oma Opa yang berasal dari suku Ambon, Batak, Menado, Jawa, Tionghoa, dll. Ada berbagai cerita sedih pun mengharukan tentang penghuni Panti. Seorang Oma yang masuk Panti karena ditemukan di pos satpam suatu tempat, dan tidak mau diajak pulang dan minta ikut ke Panti. Belakangan diketahui Oma itu sebenarnya mempunyai suami yang sering melakukan KDRT kepadanya. Dan sampai hari ini Oma memilih tinggal di Panti karena takut. Ada yang masuk Panti karena terlantar. Ada pula tinggal di Panti karena tidak ada keluarga yang mengurus.

Kami berbincang dengan Oma Evilda Mactal yang sangat bangga menceritakan masa lalunya, Oma ini dulunya seorang guru di SMP Negeri 56 Melawai selama 22 tahun dan SMA Negeri 6 Bulungan selama 15 tahun. Beliau mengajar olahraga dan agama. Saat ini Oma tinggal di Panti karena tidak pernah menikah.

Ketika Oma Mactal bercerita, disebelahnya ada Oma yang diam memperhatikan. Ketika diajak bicara, Oma ini lebih sering tersenyum. Ibu Irene bercerita Oma ini hidup sendiri dan tidak menikah, adiknya dari Mangga Besar yang mengantarkannya untuk tinggal di Panti.

Oma Yustina yang tanggal 25 November ini akan berulang tahun ke 80,
boleh dibilang Oma paling heboh disana. Ketika kami tiba, dia menyapa
kami dalam bahasa Belanda. Rupanya Oma ini dulunya bekerja sebagai
pembantu rumah tangga di rumah seorang Belanda selama puluhan tahun sehingga sangat fasih berbahasa Belanda. Oma ini tidak pernah menikah dan dikirimkan oleh keluarga majikannya ke Panti.

Sebelum beranjak meninggalkan Panti, kami mengunjungi bangsal tempat Oma Opa yang sakit dan sudah tidak bisa mandiri lagi. Ada Oma Elsie berhidung mancung yang ternyata orang India menyapa kami dengan ucapan yang sama tiga kali, “Kamu siapa? Kayaknya saya kenal, muka kalian bertiga familiar sekali” Padahal kami bertiga belum pernah bertemu Oma Elsie.

Terakhir, kami berbincang-bincang dengan Oma Suhati, penghuni paling tua berusia 94 tahun dan sudah tinggal di Panti sejak tahun 1981. Ketika kami menanyakan setengah berterak agar dia mendengar, “Oma senang tinggal disini?” Oma menjawab dengan suara yang terbilang cukup kuat untuk umurnya, “Senang. Disini semua gampang, mau makan tinggal makan. Tidak seperti di rumah, bolak balik berdiri jongkok untuk masak nasi. Bingung tiap hari mau masak apa, kalo ada duit syukur. Tapi kalo lagi gak ada? Minta siapa?” katanya. Oma ini pernah jatuh di kamar mandi dan sejak itu tidak bisa berjalan, akibatnya saat ini Oma menghabiskan harinya dengan berbaring di tempat tidur karena lumpuh dan kedua kakinya sudah mengecil.

`Oma, nanti kami datang lagi yah. Kita ngobrol-ngobrol lagi” kataku berpamitan. Oma menjawab, “Mudah-mudahan masih bisa ketemu yah. Siapa tahu saya sudah tidak ada, karena Bapa sudah panggil” katanya. Ibu Irene berkata, Oma Suhati sering berkata jika ada penghuni yang meninggal, “Kenapa aku belum dipanggil juga yah”

Kondisi Panti

Panti berdiri berbentuk bangunan tua dengan 25 kamar mengelilingi taman di tengah area. Sebagai bangunan tua, disana sini banyak bagian yang sudah lapuk dimakan usia. Bersyukur bahwa ada donatur yang sedang memperbaiki kamar mandi Panti dan membangun aula. Di bagian depan Panti ada bangsal khusus menampung Oma Opa yang sakit, stroke dan harus dibantu perawat. Kami melihat hampir semua kamar tidak dilengkapi kipas angin apalagi AC karena ketiadaan dana.

Sepanjang lorong kamar, kami bertemu dan sekali-sekali berbincang dengan Oma penghuni Panti. Kami sama-sama memperhatikan kursi teras dan mejanya yang sudah tua dan lusuh, yang setiap hari menjadi tempat Oma Opa itu menghabiskan waktunya berbincang dengan penghuni Panti lainnya. Di sepanjang lorong Panti, kami juga  memperhatikan bahwa banyak lemari Panti yang sudah tua dan reot.

Ketika kami menanyakan kebutuhan utama Panti yang belum dipenuhi, Ibu Irene menyatakan mereka sudah sangat bersyukur jika mendapat sembako dan peralatan kebersihan. Namun dalam perjalanan kami keliling Panti, kami menemukan banyak hal yang sepatutnya diganti karena sudah tua, sudah rusak dan tidak bisa dipakai. Padahal barang-barang tersebut merupakan kebutuhan utama Panti yang mendukung pada pelayanan dan kenyamanan para Oma Opa tinggal disana.

Rencana Sumbangan LM

1. Kulkas
Ketika kami tiba di bagian dapur Panti, kami melewati 2 lemari kayu tua
berisi peralatan makan. Dapurnya yang agak licin karena jenis keramiknya membuat kami harus berhati2 berjalan. Di bagian belakang, terdapat 3 buah kulkas. 2 diantaranya masih bisa dipakai, namun dalam keadaan rusak karena sudah tidak dingin dan bahan makanan yang didalamnya tidak tahan lama. Satu kulkas kecil sudah rusak tidak bisa dipakai lagi.

Catatan. Patut kita syukuri bahwa Mom Dera dan Mas Iwan telah terketuk menyumbangkan kulkas besar dari rumahnya yang baru dibeli 10 bulan lalu untuk dipakai Oma Opa di Panti Jompo Melania.

2. Mesin cuci
Dapur yang bersebelahan dengan tempat mencuci membuat kami melongokkan kepala melihat deretan mesin cuci. Yang ternyata dari 4 mesin cuci disana, hanya 1 yang masih bisa dipakai. 2 sudah rusak, 1 baru diservis dengan harga Rp. 400,000,- namun bolak balik rusak.

Survey harga: Panasonic 7kg Rp. 1.699.000 Toshiba 6,5kg Rp. 1.959.000 Sharp 8,5kg Rp. 2.059.000 Sanken 8,8kg Rp. 1.599.000 Sanken 7,8kg Rp. 1.104.000 Hitachi 10,5kg Rp. 2.699.000.

3. Pemanas Air (Water Heater)
Kami melihat ada 3 pemanas air untuk mandi Oma Opa. Namun dari 3 pemanas air itu, hanya 1 yang bisa dipakai dalam keadaan sering ngadat.

Survey harga: Ariston 15 ltr Rp. 1.496.000 Ariston 30 liter Rp.
2.066.000 Modena 15 liter Rp. 1.200.000 Modena 30 ltr Rp. 1.300.000
Rinai 8 liter Rp. 1.325.000

4. Kipas Angin

Para penghuni menempati kamar-kamar yang berisi dua orang. Setiap kamar dilengkapi dengan kamar mandi. Kamarnya sederhana, tanpa kipas angin apalagi AC. Kami bertanya pada Ibu Irene jika Oma Opa ini kepanasan, biasanya mereka cukup memakai buku atau apa saja menjadi kipas. Ketika cuaca sedang panas-panasnya, di siang hari Oma Opa ini cepat lelah. Ketika cuaca mulai dingin seperti sekarang, Oma Opa dihadapkan pada dinginnya air ketika mandi. Ada cerita seorang Oma berusia 80 tahun yang mempunyai kipas angin (satu-satunya disana), harus ke pasar berjalan kaki untuk memperbaiki kipasnya yang sering mogok itu.

Survey harga: Desk Fan Maspion 9″ Rp. 130.000. Desk Fan Miyako
9″ Rp. 135.000. Stand Fan Sanken Rp. 220.000. Stand Fan Cosmos Rp.
220.000. Box Fan Cosmos Rp. 135.000. Box Fan Sanken Rp. 320.000.

Rencana Acara LM
Kunjungan Kasih LM ke Panti Jompo Melania
Hari Minggu, 14 Desember 2008. Pukul 15.00 hingga selesai
Acara:
Sambutan, Penyerahan sumbangan, Hiburan dengan Keyboard dan Singer (sumbangan Mom Dera dan Kel), Pembagian gudibeg untuk Oma Opa, Pembagian makan malam Oma Opa (nasi kotak).

Sumbangan Kasih LM
Sesuai dengan hasil survey, kami sangat berharap dan berdoa agar kiranya Sumbangan Kasih LM dan Sahabat LM dapat membantu Panti Jompo Melania memiliki barang-barang yang sangat mereka butuhkan. Semoga penggalangan dana LM kali ini berhasil memenuhi rencana kita agar bisa memberikan kenyamanan dan hidup yang lebih mudah bagi Oma Opa di Panti Jompo Melania. Mari kita lakukan yang terbaik, mari berbagi kasih dan berkat bagi Oma Opa kita disana.

Mungkin ada diantara donatur yang berkeinginan menyumbang dalam bentuk non cash, silahkan langsung menghubungi Panitia. Sembako, peralatan kebersihan, isi Goody Bags akan kami terima dengan sukacita dan terimakasih. Jika ingin menyumbang isi goody bags (46 pax). Berikut beberapa barang yang bisa disumbangkan:

* Daster untuk Oma, Piyama untuk Opa
* Sendal jepit
* Handuk
* Sikat gigi dan Pasta
* Shampo dan Sabun
* Balsem hijau, Minyak kayu putih
* Cereal (Oatmeal), Susu, Biskuit

Sumbangan Cash
Bagi yang terpanggil berbagi kasih, dana dapat ditransfer ke rekening kasih yang disediakan.  Bagi yang sudah melakukan transfer, mohon konfirmasi ke Bendahara: Yolanda, Helena dan Ricke.

Sumbangan Barang Non Cash

Bagi yang ingin menyumbang non cash, dapat menghubungi Panitia. Posko pengumpulan barang sumbangan di rumah Gerda, moderator LM.

Kami sangat berharap kegiatan berbagi kasih ini dapat memberikan sedikit kebahagiaan melalui perhatian dan kasih sayang kepada Oma dan Opa penghuni Panti Jompo Melania yang menghabiskan masa tuanya jauh dari keluarga yang mengasihi dan memberi kehangatan kasih dan cinta.

Hasil dari sumbangan anda akan kami laporkan rutin di milis dan blogs
LM. Bagi yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang acara kunjungan
kasih dan perkembangan sumbangan, silahkan mengunjungi blogs kami di  http://lovingmoms.wordpress.com/

Kami doakan Tuhan yang Maha Esa melimpahkan berkat dan kebahagiaan bagi semua tangan yang memberi dan hati yang mendoakan dengan tulus. Berbahagialah orang-orang yang masih bisa berbagi kasih dan berkat, yang berkenan memberi bantuan kepada Oma dan Opa yang menantikan uluran kasih di Panti Jompo Melania.

Salam Kasih
Panitia Kunjungan Kasih Loving Moms ke Panti Jompo Melania

Ketua:
* Yannie mom Matthew & Jayson

Sie Acara:
* Dera mom Keishia & Amadeo
* Tania mom Vida & Marcello

Bendahara:
* Yolanda mom Benning
* Helena mom Josiah
* Ricke mom Wilson

Moderator LM
* Gerda mom Christabelle
* Nia bunda Kayla

Loving Moms
Let’s Share Our Love With Everyone

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s