Proposal LM Peduli Rumah Autis (Ultah kedua LM)

Anak-anak Special Needs @ Rumah Autis YCKK membutuhkan cinta kita

by Gerda Silalahi, proud mom to Christabelle Amadea

Rabu (5/9) jam 2 siang, aku dan Arie tiba di Rumah Autis yang terletak di daerah Pondok Gede. Nia, Farah & Dera menyusul setengah jam kemudian. Kami diterima dengan ramah oleh Mbak Sari, berhubung Pak Deka sedang tidak ditempat. Mbak Sari adalah salah satu aktivis volunteer di Rumah Autis dan merupakan single parent dari Sarah, anak perempuan 11 tahun penyandang autis yang juga mendap at terapi dan bersekolah di YCKK.

Rumah Autis ini merupakan tempat terapi bagi 30 anak autis dari kalangan tidak mampu alias dhuafa. Diantara mereka, ada beberapa yang juga menyandang cacat fisik selain autis alias multi disablement seperti tuna rungu, tuna wicara, dll.

Latar Belakang

Cikal bakal Rumah Autis berasal dari keperdulian Ustad Deka Kurniawan, dua terapis anak autis di lembaga terapi autis dan dua orangtua anak penyandang autis alias special needs. Kelima orang inilah yang mempunyai cita-cita memberikan pembekalan hidup mandiri bagi anak2 penyandang autis yang berasal dari kalangan tidak mampu alias dhuafa.  Mereka prihatin dengan mahalnya biaya terapi dan pendidikan bagi anak autis, dimana hal ini tidak akan mampu dijangkau oleh orangtua penyandang autis kalangan bawah yang untuk sekadar makan sehari2 saja pun sudah kesulitan.

 

Ustad Deka dkk mulai mewujudkan rencana tersebut dari sebuah kamar di rumah Pak Deka untuk tempat terapi autis anak tidak mampu. Diawali dengan modal sebuah container berisi mainan sederhana sebagai alat peraga. Ketika peminatnya semakin banyak, Ustad Deka harus pindah dari rumahnya sendiri untuk memberikan tempat kepada anak2 terapi. Syukurlah, saat ini rumah autis sudah menempati sebuah rumah kontrakan sederhana yang disewa oleh European Union sebagai sumbangan kepada rumah autis selama 3 tahun.

Rumah Autis berbentuk rumah sederhana dengan 3 kamar, 1 dapur dan 1 kamar mandi. Ruang tamunya cukup luas dipenuhi dengan satu set permainan untuk merangsang kemampuan  Sensory Integracy (SI). Permainan SI ini merupakan sumbangan dari PT. LG pada ultahnya tahun lalu. Menurut Mbak Sari alat itu dipesan khusus langsung kepada pembuatnya Rp. 15 juta satu set. Sebelumnya LG menanyakan apa yang paling dibutuhkan anak2 di rumah autis, dan mereka meminta alat SI itu.  Permainan itu tdd puluhan matras, soft play perosotan, ayunan dan kolam bola, dan mini climbing wall. Semuanya diperlukan untuk terapi motorik dan konsentrasi anak2 special needs.

 

Visi dan Misi

Misi pendirian rumah autis adalah membantu anak2 autis dari kalangan tidak mampu untuk mendapat terapi yang murah, dan jika memungkinkan gratis samasekali.

Visinya adalah terapi yang diberikan akan membekali anak special needs supaya bisa mandiri dalam arti bisa mengurus diri sendiri, mengerti dan memahami konsep2 sederhana dalam hidup dan tidak selamanya bergantung kepada orang lain. Mereka tidak diarahkan untuk pintar secara akademis, karena bisa mandiri saja pun sudah merupakan tantangan dan perjuangan panjang.

Dalam jangka panjang, para aktivitis rumah autis memiliki cita2 mendirikan suatu center/pusat kegiatan bagi anak2 autis yang sudah beranjak dewasa. Dalam arti diciptakan suatu lingkungan yang akan menerima hasil karya dan memperkerjakan anak2 autis yang beranjak dewasa supaya mereka tidak terus menerus menjalani hidup tergantung kepada orang lain. Mereka bercita2 di center tersebut, akan ada kerajinan hasil karya anak autis yang dijual oleh anak2 itu sendiri dan uangnya untuk mereka sendiri juga. Intinya membuat mereka merasa berarti dan diakui karyanya dalam lingkungan yang menerima mereka apa adanya. Amin.., mudah2an cita2 mulia ini terwujud.

Ada 30 anak yang mengikuti terapi di rumah autis. 15 diantaranya tidak membayar semasekali karena memang tidak mampu. Dan 15 anak lagi membayar Rp. 40,000 per kunjungan. Rp. 40,000,- itu dipakai untuk: Rp. 10rb membayar terapis. Rp. 10rb membantu operasional. Rp. 10rb subsidi anak tidak mampu. Rp. 10rb untuk kegiatan2 bersama (biasanya tiap sabtu kegiatan sosialiasi bersama).  Bandingkan dengan terapi autis di luaran biasanya minimal ratusan ribu/visit.

Meskipun didirikan oleh seorang Ustad, Rumah Autis ini tidak hanya menampung anak2 beragama Muslim, tapi juga anak2 autis tidak mampu beragama non muslim.

Metode Terapi

Setiap anak mendapat satu jam terapi dengan metode one by one dibimbing oleh satu terapis. Dalam satu jam itu, si terapis memperkenalkan berbagai konsep kepada anak dengan bantuan alat peraga, melalui permainan dan nyanyian maupun gerak. Dimulai dari konsep sangat sederhana seperti memperkenalkan anggota tubuh, fungsinya dll dll. Alat bantu yang dipakai antara lain flash cards (menggunakan metode glen doman).., aneka puzzle, boneka2, masak2an dll. Mirip seperti yang dilakukan seorang ibu kepada anak balitanya. Bedanya anak yang diterapi disana sudah berumur 3 – 12 tahun dan belum mengerti konsep.

Disamping itu, YCKK juga mempunyai sekolah full day untuk anak2 autis yang berlokasi tidak jauh dari rumah terapi ini. Sekolah itu dibuka hanya 3 kali seminggu karena keterbatasan biaya dan tenaga pengajar. Jam sekolahnya adalah full day alias jam 8 pagi hingga jam 4 sore. Tenaga pengajar maupun terapis diperbolehkan mengajar di tempat lain 3 kali seminggu karena mereka dibayar sangat minim di rumah autis. Misalnya seorang bapak guru dari gunung putri, bogor digaji Rp. 200rb sebulan + Rp. 10,000 ongkos/datang + Rp. 5,000 uang makan/datang. Terapinya rata2 berlatar belakang pendidikan D3 dan mendapatkan on the job training untuk menangani anak autis. 

Ada seorang dokter volunteer, namanya Dr Ira yang datang berkala (1 kali beberapa bulan) memeriksa kesehatan anak2 itu. Tapi mereka tidak diperiksa rutin dengan metode psikologi khusus anak autis karena ketiadaan biaya. 

Selain itu YCKK juga baru sebulan ini membuka rumah autis untuk terapi anak2 autis tidak mampu di daerah Tangerang yang sama sekali belum mempunyai alat2 peraga dan permainan seperti yang sudah dimiliki sebagian di Pondok Gede. 

Pendanaan

Anak2 autis disini datang dari kalangan menengah kebawah seperti anak dari orangtua yang berprofesi sebagai supir, tukang ojek dll. Kadang2 rumah autis bukan hanya membantu terapi anak2nya.., tapi juga uang kontrakan dan uang makan ikut dibantu, kalo anaknya sakit dibawa ke dokter, dll dll.

Yang menjadi masalah adalah pendanaan. Rumah autis ini belum mempunyai donatur tetap. Padahal biaya yang dibutuhkan operasional diantaranya membayar terapis, dll berkisar Rp. 6 juta sebulan. 

5 dari anak autis itu merupakan anak asuh dari PT. DJARUM diberikan sumbangan tetap Rp. 100,000/anak/bulan untuk mendukung operasional rumah autis. Rumah Autis juga mendapat Rp. 300rb dari PT. Petro China tiap bulan. Meski demikian, tentu saja masih jauh dari kecukupan dananya. 

Saat ini Pak Deka dkk juga sedang merintis system boarding / asrama bagi  anak2 autis di sekolah YCKK tersebut. Dengan boarding diharapkan anak2 itu bisa diterapi dengan lebih konsisten sepanjang hari untuk melatih mereka cepat mandiri dan mengejar ketinggalannya. Namun system asrama sangat mahal karena membutuhkan minimal Rp. 8 juta sebulan. 

Peran LovingMoms

Adalah suatu keputusan yang sangat tepat jika kita, LovingMoms memberikan sumbangan dan perhatian kepada anak2 di rumah autis ini. Mereka sangat membutuhkan dana dan berbagai permainan untuk mendukung terapi mereka. 

Permainan yang mereka butuhkan sangat sederhana. Jangan membayangkan alat peraga yang rumit, mahal dan susah ditemui dimanapun. Alat peraga mereka hanyalah flash card dan berbagai jenis kartu tebal bergambar aneka jenis buah, binatang, alat2 rumah tangga, profesi, dll. Ini untuk mengenal benda2 disekitarnya. Mereka juga memainkan puzzle seperti anak2 kita. Mereka juga memakai alat masak2an, boneka kecil, bola, buku dan crayon, dll dll. Pokoknya persis seperti permainan anak2 kita yang toddler. 

Dana yang terkumpul nantinya bisa diberikan secara langsung maupun bertahap. LovingMoms bisa menjadi orangtua asuh kepada salah satu/beberapa anak didik di rumah autis ini. Dari dana yang terkumpul, kita bisa mengirimkan dana itu sekaligus, atau membelikan permainan dan alat peraga atau mengirimkannya secara berkala sebagai orangtua asuh setiap bulan/semester untuk membantu mereka mendapatkan terapi/sekolah. 

Mbak Sari dan pak Deka akan mengirimkan profile 30 anak2 di rumah autis tersebut. Mereka juga akan mengirimkan proposal permohonan bantuan kepada LM.

Mengisi bulan Ramadhan ini, mereka akan menyelanggarakan pesantren kilat untuk mengajarkan anak2 itu kebiasaan di bulan ramadhan. Rencananya akan dilangsungkan pada akhir bulan September. 

Dan secara kebetulan pada tanggal 29 – 30 September, di rumah autis akan diadakan acara bersama mengakhiri pesantren kilat tersebut sekaligus acara mengakhiri masa belajar sebelum lebaran. Kita diundang untuk datang menghadiri jika berkenan. 

Ini menjadi suatu moment yang sangat tepat bagi kita, LovingMoms menyerahkan sumbangan kita kesana pada tanggal 29 September siang sebelum kemudian konvoi bersama menuju Putt2 Golf untuk acara perayaan ultah ke-3 LM sore harinya.

Tidak banyak lagi yang bisa kutulis disini. Mewakili Arie, Dera, Farah dan Nia.., ijinkan kami mengetuk pintu hati Moms sekalian supaya memberi perhatian dan bantuan kepada saudara2 kita yang kurang beruntung.., anak2 kecil (dan innocent) penyandang autis di rumah autis YCKK. Mari kita ulurkan tangan.., besar kecil.., baik itu dalam bentuk doa, materi maupun bentuk lainnya untuk membantu mereka. 

Bantuan bisa berupa uang maupun barang, permainan anak2 yang sudah tidak dipakai maupun yang baru, sembako, pakaian layak pakai, dll.  Semuanya diterima dengan senang hati dan penuh ucapan syukur. 

Percayalah, bantuan dan perhatian yang kita berikan akan sangat berarti bagi mereka. Setitik perhatian dari kita merupakan bantuan yang sangat berharga bagi mereka. Didalam ajaran agama manapun, kita diajarkan untuk membantu orang2 yang kurang beruntung. Dan kita juga percaya ada berkat dan balasan melimpah diberikan kepada mereka yang memberi dan membantu orang2 yang membutuhkan dengan tulus. 

Love,

Gerda, Arie, Dera, Nia, Farah dan semua anak2 di rumah Autis

 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

LovingMoms Perduli Anak Autis @ Rumah Autis YCKK

Bendahara: Dewi mom Icha dan Fetty ibu Nadine & Azka

Kami mengetuk pintu hati semua member LovingMoms dan sahabat-sahabat LovingMoms untuk memberikan sedikit cinta dan perhatian kepada anak-anak autis yang membutuhkan di Rumah Autis. 

Rekening LM Perduli kali ini dipercayakan kepada Dewi mom Icha dan Fetty ibu Nadine & Azka. Jika sudah transfer, tolong konfirmasi ke dewi_sanita@ yahoo.com dan fetty@ndi.or. id. Dengan menyebutkan nama, jumlah dana yg diransfer dan Bank yang dituju.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

 

Susahnya melafalkan “Tshc..Tsch..” buat kami, the Gifted Children

By Ariemega, ibunda Nayaka

Siang terik, tidak membuat urung Loving Moms [Arie, Gerda, menyusul kemudian Dera, Nia, dan Farah] untuk mendatangi Rumah Autis. Sebuah rumah kontrakan tipe 54 boleh mereka dapatkan dari sumbangan European Union untuk 3 tahun. Kami berdua disambut manis oleh Ibu Sari salah satu orang tua yang peduli dengan anak-anak autis Dhuafa. “Mari masuk.. panas yah..maaf tempatnya juga kecil.” Kami duduk di ruangan sekaligus ruangan untuk Sensory Integracy (SI). Alat2 SI merupakan sumbangan dari PT. LG senilai Rp. 15 juta.

Di sebuah kelas, terdengar suara seorang terapis mengajarkan berbicara seorang murid bernama … (6) maaf saya lupa banget!!. Bagi saya dan Gerda, suara dalam ruangan 2x3m itu seperti 10 orang murid, karena begitu semangatnya ibu guru mengajarkan si anak lafal “Tsh-Tch” yang bagi “gifted child” sangatlah sulit. Ternyata, setelah kelas usai hanya ada satu murid!!

Rumah Autis Dhuafa Yayasan Cahaya Keluarga Kita, berdiri sudah 4 tahun. Mereka yang berada dibalik rumah autis adalah para therapist berjiwa sosial dan orang tua yang mempunyai gifted child-begitu mereka menyebutnya-tetapi sebagaimana sebuah yayasan, Ibu Sari mengakui Rumah Autis hidupnya “Senin-Kamis” alias kurang. Rumah Autis mempunyai 30 anak Autis berusia 3-12 tahun, 15 di antaranya murni dhuafa, murni subsidi, sementara sisanya berasal dari kalangan menengah yang datang per harinya Rp. 40 ribu. ”

“Dari empat puluh ribu, 10ribu untuk kontribusi terapis, 10ribu kontribusi murid Dhuafa, 10ribu untuk operasional, dan 10ribu untuk pengembangan.” tutur single parents berparas cantik ini.

Tetapi kegiatan belajar mengajar hanya 3x dalam seminggu. “Memang kami jauh dari ideal menerapai anak berbakat ini, karena kami tidak mungkin membayar terapi Rp. 300 ribu/bulan untuk kerja full day dalam seminggu.”

Kurang lebih setahun ini Rumah Autis mencoba untuk membangun Boarding, atau asrama. Untuk asrama ini mereka mengutamakan kegiatan yang bersifar workshop atau keterampilan. “kami tidak mengharap mereka mengikuti akademis sekolah, melainkan membuat mereka belajar tentang diri mereka sendiri. Ada salah satu anak yang mulai mau makan bervariasi padahal dulunya hanya mau makan ayam dan bandeng.” Kata Ibu dari Sarah (11) yang juga autis dan memilih memberikan terapi untuk anaknya di asrama YCKK.

Siang menjelang sore, datanglah Farrell (8) tahun. Farell bocah kelas 2 SD di diagnosis light autism sekaligus disleksia. Di usia tersebut, Farell mendapatkan kesulitan membaca. Awalnya saya dan Gerda tidak melihat keanehan pada diri Farell. Baru kemudian setelah Gerda menanyakan siapa namanya, berapa umurnya, Farell mulai menunjukkan ketidaksukaan dari pancaran matanya. Farell pun segera bermain ayunan, tetapi ia mulai menunjukan sikap tidak bersahabat kembali ketika kami mengikuti gerakannya.

“Boleh main Farell..” suara ibu Sari lembut ditambah senyum yang memang tidak pernah lepas dari wajahnya. Farell membelakkan matanya, melihat kami bertiga. Saya takut ia melakukan sesuatu. Setelah dibujuk beberapa kali, Farell mulai bermain ayunan, saya memutuskan untuk tidak kontak mata. Tidak beberapa lama, Farell mengikuti kelas, bermain ular tangga yang setiap kotaknya farell harus menyebut nama benda-benda sesuai kotak yang ia singgahi. Semua alat bantu sangatlah sederhana. Bahkan beberapa alat permainan ada miniatur yang menurut pendapat saya tidak bisa sembarangan anak autis memakainya. Ada garpu dan sendok asli, ada miniatur hewan, buah-buahan, yang kata ibu Sari kadang mereka bisa main emut. Para terapis harus pandai-pandai menggunakan alat-alat peraga supaya tidak menciderai anak-anak itu.

 “Beginilah.. keterbatasan kami. Kami gunakan apa saja untuk merangsang baik itu motorik dan sensorik murid-murid. Jangan samakan alat peraga dengan sekolah lain. Kami ini apa adanya. Padahal dana yang kami gunakan sebulannya TIDAK LEBIH dari GAJI mbak-mbak sebulan. Hanya 5-6 juta sebulan. Dan sejauh ini kami belum mempunyai donator tetap.” Ujar Ibu Sari menutup perbincangan kami.
With love

Arie mom Nayaka

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Anak-anak Autis itu juga manusia

By Nia Oktaviani, ibunda Kayla

Hmmm…apalagi yah? Speechless banget saking terharunya dengan semangat dan usaha pak Deka, Mbak Sari, dkk untuk membantu / menangani / menampung / merawat anak2 autis dr kalangan tidak mampu ini….yang diharapkan apa yang telah ditabur dan ditanam saat ini kelak suatu saat akan terwujudlah “truly home” bagi anak2 autis ini yang akan sangat berguna di kehidupan mereka di masa yang akan datang.

Sedikit gambaran, sehari2 aku ber-interaksi dengan anak2 autis, kebetulan di sekolahku ada departemen Special needs…disini ada loh dr umur 5 tahun bahkan 3 tahun anak autis yang sudah disekolahkan ortunya untuk mendapat pengawasan lebih lanjut dr para ahlinya. Tentunya mereka berasal dr kalangan mampu, yang bagi ortunya sangat ringan membayar Rp. 100 juta per tahunnya untuk penanganan anaknya di sini. Tentunya ini sangat berbeda dengan apa yang dialami anak2 autis di YCKK ini..

Jadi teringat ketika sekolahku mengadakan seminar autis, kita mengundang Christina B (therapist from aussie), She is our consultant for Dept. SN, said “bahwa metode terapi terbaik untuk anak2 dgn kebutuhan khusus ini, adalah LOVE and Care program. Tunjukkan dan perlakukan lah mereka dgn penuh cinta dan kasih sayang cause “they’re also human beings…same like us…who need love and attention”. Dengan begitu, mereka akan berlaku sama kepada kita…timbul confidence dlm diri mereka dan menyadari bahwa they’re not alone…dan semua menyayangi mereka. Ini sangat penting untuk meng-encourage semangat anak2 ini untuk belajar, untuk terapi lebih baik dan rajin lagi, tidak putus asa dgn keadaan yg dialami.

Dia juga mengatakan “Mungkin bagi sebagian orang awam berpikir mereka aneh, tdk normal, cacat, dan sebutan2 lainnya sehingga harus dihindari/dijauhkan….tetapi Tuhan Maha Adil…Dia menciptakan mereka (anak2 autis) dengan lebih banyak kelebihan yang harus disyukuri para ortunya. But, it’s TRUE!!!!

Anak2 autis di sekolahku mempunyai kelebihan yang beraneka ragam … ada yang juara I di ROBOTIC… padahal klo dipikir untuk hal2 kecil saja, spt makan, minum..mereka sangat kesulitan , apalagi merancang robot yang digerakkan lewat komputer, SUBHANALLAH kan moms??? trus ada yang juara menggambar, melukis, dance, dll.

Salah satu murid SN di sekolah ku, namanya Sarah Indra, klo gak salah ortunya yang punya Smailing Tour, skrg kerja di tour travel bapaknya bagian Ticketing…dia dulu light autis, kesulitan dlm berhitung, susah berinteraksi dgn orang, pasif…tapi skrg dia udh tumbuh dewasa, kerja, dan aktif lg. orang2 disekelilingnya gak akan mengira klo dulunya dia spt itu…tidak sembuh total, tapi mempunyai confidence dan tekad yang kuat dlm menjalani hidup, itu yg terpenting!!!!

Singkat kata, yuks kita sama2 bantu dan dukung pak Deka,dkk untuk bisa lebih optimal dalam mengurus anak2 ini. Jangan sekalipun memandang dengan sebelah mata pada mereka atau mencibir, memperolok2an atau menyisihkannya dr lingkungan sekitar kita….Anak2 autis ini juga MANUSIA…yang ingin diperlakukan baik dgn penuh cinta kasih dari moms semua di LM.

Semoga dengan LM PEDULI ini, anak2 ini akan bisa mendapatkan yang terbaik dalam kehidupannya kelak. AMIN.

-Nia bunda Kayla-

yang hari ini dikasih brownies made in anak2 TEC (anak2 Special Needs yang udh tingkat SMP), coz it’s friday…cooking time!!!

         

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kagum kepada Orangtua anak-anak Special Needs

By Dera Natalia, mom Ikeishia         

Gw jg speechless.. sampai sekarang masih tetep kebayang wajah Mbak Sari yang bersahaja & gak pernah berhenti tersenyum serta suasana di rumah autis itu sendiri.

Sebagai seorang ibu juga, gw gak bs ngebayangin seandainya gw harus berada di posisi yang sama dengan Mbak Sari, apakah gw akan bisa sekuat itu. Sudah single parent, memiliki seorg putri yang special needs, masih bisa memikirkan & membantu bahkan mendedikasikan dirinya semaksimal mungkin untuk anak2 lain yang senasib dengan putrinya..psstt..tiap hari Mbak Sari pasti datang ke rumah autis itu lwohh!

Sepanjang pertemuan kmrn, gak sekalipun gw denger Mbak Sari mengeluh meskipun dari ceritanya bahwa setiap pertengahan bulan selalu deg2an apakah uang yang ada akan cukup utk memenuhi kebutuhan bg 30 orang anak autis tsb.

 Cerita Mbak Sari & kunjungan ke Rumah Autis kemarin memberikan inspirasi buat gw & keluarga gw…terutama utk kakak gw yang anak keduanya juga terlahir tidak sempurna. Semoga semua ibu yg memiliki anak tidak sempurna bisa menerima anak2 itu apa adanya..karena anak2 itu juga manusia yg dimata Tuhan tetap sempurna.

Mudah2an fund raising yg sedang kita adakan ini bisa sedikit membantu meringankan beban mereka di rumah autis itu..teriring doa semoga cita2 Mbak Sari dkk utk membangun sebuah “Kampung Autis” dpt terwujud shg anak2 autis yg beranjak dewasa (di usia produktif) memiliki tempat bernaung utk menggali kemampuan mrk semaksimal mungkin & bisa hidup mandiri tanpa perlu tergantung pd orang lain.

 

Love,

Dera mom Keishia

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

   

Anak Autis Miskin juga berhak mendapat terapi

Sumber : http://www.kompas.com/kesehatan/news/0606/13/124048.htm

Muhammad Hamzah (7) terus-menerus memandangi putaran kipas angin dengan mulut yang bergerak-gerak. Bocah berkacamata plus 18 itu tak perduli siatuasi kanan kiri yang ribut.

 “Pada umur dua bulan kami mengetahui bahwa Hamzah terkena katarak,” kata ati Herawati (37) si ibu. Usia satu tahun lensa mata Hamzah diambil, dan kini ia harus mengenakan kacamata tebal.

 Bukan hanya masalah mata yang muncul kemudian, pendengaran Hamzah juga tidak normal. Ia juga hiperaktif dan didiagnosis menderita autis.

 Ahmad Sarik (8,5) juga mengalami hal yang sama. Di usia dua tahun dia kehilangan kata-kata. Padahal sebelumnya Safik adalah anak yang sehat dan ceria. Setelah mendapat Electroencephalogram EEG di RS Ciptomangunkusumo, Safik juga diidentifikasi menderita Autis.

Bagi Ati Herawati adan para ibu lainnya, bukan perkara mudah untuk menyediakan dana sedikitnya Rp. 600,000,- hingga Rp. 1,5 juta per bulan guna melakukan terapi dan pengobatan anak autis. “Untuk berangkat konsultasi ke RS Cipto dari rumah kami di Bekasi ini, kami harus berganti kendaraan umum sampai 4 kali,” kata Ati saat peresmian Rumah Autis Yayasan Cahaya Keluarga Kita (YCKK) di Jalan Durian No. 15, RT 04/ RW 11, Kampung Rawalele, Jatimakmur, Pondok Gede, Bekasi, 17413. Telp. 021-70982239; 0817-4936887

Selain biaya tinggi anak juga kelelahan dalam perjalanan. “Maka senang sekali rasanay ada rumah terapi autis di dekat rumah kami,” kata ibu 3 anak yang bersuami sopir itu.

Ati Herawati yang relatif mampu saja merasa berat dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai sang anak. Bagaimana dengan anak autis yang dilahirkan dalam keluarga sangat miskin. Pertanyaan itu menggugah Deka Kurniawan dan teman2nya yang kemudian mendirikan rumah autis YCKK.

Rumah terapis sederhana itu menyediakan fasilitas yang mencukupi untuk terapis penderita autis di sekitar Bekasi dan Jakarta Timur.  Selain beberapa terapis muda yang memberikan layanan terapi, juga disediakan kelas bermain dan permainan anak.

“Tidak ada tarif khusus yang diberlakukan. Pembayaran iuran sukarela tergantung pada kemampuan keluarga,” kata Ati yang tak menyebutkan jumlah dana yang ia keluarkan untuk terapi di rumah autis YCKK. Rumah autis juga berubah menjadi sebuah keluarga besar yang beranggotakan keluarga-keluarga anak penderita autis lainnya. Disana penguatan mental antar orangtua dalam mengasuh anak terjadi.

Menurut Deka Kurniawan, untuk menghidupi lembaga itu selain ada lembaga donor yang bentu membiayai dia menerapkan subsidi silang. Iuran orang tua penderita autis ditentukan berdasarkan kesepakatan. “Kami baru menggratiskan 5 anak autis miskin yang tinggal di sekitar sini.” kata Deka. Kriteria miskin itu ditetapkan setelah diketahui bahwa penghasilan keluarga memang tidak mencukupi untuk melakukan terapi.

Biro sensus Amerika mendata di tahun 2004 ada 475,000 penyandang autis di Indonesia. Ditengarai, setiap hari, satu dari 150 anak yang lahir menderita autis. Padahal tahun 1970an anak penyandang autis 1 : 10,000 kelahiran. Namun Indonesia hingga kini belum punya data jumlah penderita autis, apalagi jumlah anak autis dari keluarga miskin.

Banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menangani autis di Indonesia, misalnya menyediakan payung hukum dan anggaran memadai untuk menyediakan dokter ahli, lembaga penelitian, alat terapi, obat2an, dan pusat terapi murah. Sosialisasi dan gerakan penyadaran bagi masyarakat, sangat diperlukan agar masyarakat makin perduli pada anak2 autis dan mendukungnya hidup normal (WSI).

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s